Thursday, November 12, 2015

10 Mitos Tentang Otak Manusia



10 Mitos Tentang Otak Manusia
Baru-baru ini, sebuah infographic dari journal.com diterbitkan yang menggambarkan ketidakakuratan dari 10 mitos yang paling umum tentang otak manusia. Ini menarik untuk diketahui bahwa dalam masa dimana sangat penting untuk memahami mekanisme sukses, kita masih menganut mitos ini. Pada akhirnya, belajar bagaimana memanfaatkan kekuatan otak kita secara efektif sangat penting untuk mencapai tujuan. Mitos-mitos berikut ini dibahas secara singkat dalam infographic tersebut. Artikel ini akan membahas sedikit lebih mendalam.
Sudah saatnya kita berhenti mempercayai mitos yang salah tentang otak kita. Beberapa mitos bahkan dapat membuat perbedaan besar dalam cara kita melihat hal-hal dan keberhasilan kita secara menyeluruh.
Mitos # 1: Kita Hanya Menggunakan 10% dari Otak Kita
Kita akan memulainya dengan mitos yang paling umum diyakini. Mitos ini berasal dari William James, seorang psikolog Amerika di awal 1900-an. Ia pernah mengatakan bahwa, “rata-rata orang hanya menggunakan sebagian kecil potensinya,” namun kutipan itu diubah. Pertama diubah untuk, “10 persen dari kemampuan kita”, kemudian lebih lanjut dimodifikasi untuk “10 persen dari otak kita”. Meskipun kita secara ilmiah dapat membuktikan bahwa manusia menggunakan lebih dari 10 persen dari otak mereka, mitos ini diyakini benar oleh banyak orang.
Mitos # 2: Otak Menurun Seiring Bertambahnya Usia
Beberapa keterampilan mental meningkat seiring dengan usia. Kosakata, pemahaman bahasa, berpikir kritis, dan pengendalian emosi adalah beberapa area yang terus berkembang.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesadaran penuh merupakan cara lain untuk meningkatkan fungsi otak. Studi menunjukkan bahwa peserta penelitian mengalami peningkatan fungsi otak di area-area tertentu setelah mengikuti program pengurangan stres berbasis kesadaran penuh selama delapan minggu. Peserta mengalami peningkatan dalam mengendalikan fungsi emosi dan kognisi sosial. Studi menunjukkan kesadaran penuh mungkin berguna dalam mengobati depresi dan gangguan stres pasca-trauma.
Mitos # 3: Kerusakan Otak Selalu Permanen
Meskipun benar bahwa kerusakan otak parah mungkin tidak pernah sembuh sepenuhnya, namun fungsi otak pada bagian yang rusak dapat diperbaiki serta hilangnya koneksi antara neuron dapat dihubungkan kembali.
Ketika neuron rusak, otak dapat menyambungkan kembali menggunakan bagian lain dalam melaksanakan fungsi yang hilang. Fungsi seperti berbicara dapat ditangani oleh bagian lain dari otak setelah ia belajar fungsi tersebut melalui terapi pengulangan. Jadi pada intinya, neuron yang rusak tidak bisa tumbuh kembali, namun hubungan yang rusak antara neuron dapat berhubungan kembali.
Mitos # 4: Otak Adalah “Hard-Wired” (Perangkat keras yang sekali terputus tidak bisa dihubungkan kembali)
Yang benar adalah otak dapat dihubungkan kembali. Terapi akan mendorong bagian-bagian baru dari otak, yang tidak terkait dengan keterampilan, untuk mengambil alih suatu fungsi ketika bagian terkait tidak mampu melakukannya. Sebagai contoh, kemampuan mendengar orang buta meningkat ketika kemampuan melihat tidak tersedia. Seorang penderita stroke dapat berbicara dengan melatih area yang tidak berhubungan dengan kemampuan mengontrol bicara.
Menghubungkan kembali otak anda juga dimungkinkan untuk mengubah kebiasaan. Otak belajar melalui tindakan berulang-ulang. Jika anda ingin berhenti merokok, anda dapat melatih otak anda untuk berhenti mengirimkan sinyal yang membuat hasrat tak tertahankan. Ini hanya membutuhkan waktu dan pengulangan untuk melatih otak anda.
Mitos # 5: Orang-orang Otak Kiri Adalah Mereka yang Terorganisir, sementara Orang-orang Otak Kanan adalah Mereka yang Kreatif
Belahan otak adalah contoh besar lainnya dari mitos yang telah diubah oleh seseorang dan kemudian mendapatkan popularitas sampai itu diyakini benar.
Kenyataannya adalah bahwa kedua sisi otak anda mengontrol sebagian besar kegiatan. Sebagai contoh, saat melakukan matematika, baik belahan kanan dan kiri otak anda dimanfaatkan. Jika kita mempercayai aliran otak kiri mengontrol logika dan otak kanan mengontrol kreativitas, menjadi tidak masuk akal jika kita melakukan matematika menggunakan sisi kanan, karena pada akhirnya matematika adalah semua tentang logika, bukan?
Mitos # 6: Memori Anda adalah Catatan Terperinci Apa yang Anda Lihat dan Alami
Kita mengingat kenangan dari otak. Namun mereka bukanlah catatan aktual dari apa yang sebenarnya terjadi. Ketika kita mengingat memori maka hal yang muncul adalah bentuk terakhir yang kita ingat. Itu berarti kita meningkatkan bagian-bagian tertentu dari memori dan memungkinkan bagian lain memudar ke latar belakang.
Jika kita ingat akan pengalaman traumatis, otak kita bisa memblokir bagian-bagian tertentu sebagai perlindungan. Hal ini juga penting untuk mengetahui bahwa psikolog telah berhasil menanamkan kenangan palsu. Secara lebih mudah dijelaskan, mengapa beberapa orang dapat menyaksikan acara yang sama, tapi mereka mengingat secara berbeda.
Mitos # 7: Mendengarkan Musik Klasik Akan Membuat Bayi Lebih Cerdas
Pada tahun 1950, dokter Albert Tomatis mengklaim keberhasilan dalam mengobati gangguan pendengaran dengan musik klasik. Ia mendasari temuannya pada teori yang terbentuk melalui percobaan yang dilakukan pada 36 mahasiswa yang diminta untuk mendengarkan musik sonata karya Mozart selama 10 menit sebelum mengambil tes IQ. Para siswa ini diawasi oleh seorang psikolog, Dr Gordon Shaw, telah mengalami peningkatan IQ mereka sebanyak delapan poin. Dengan temuan itu, “efek Mozart” hidup kembali.
Tidak ada dokter yang mampu menduplikasi hasil penelitian ini sejak temuan asli. Dr Frances Rauscher, yang terlibat dalam studi awal, menyarankan hasil penelitian tersebut untuk tidak pernah mengakui bahwa mendengarkan Mozart membuat grup menjadi lebih cerdas, meskipun mereka menemukan peningkatan kinerja pada tugas-tugas tertentu. Namun, mitos telah lahir dan masih hidup hingga saat ini.
Mitos # 8: Permainan Otak (Brain Games) Meningkatkan Memori dan Penalaran
Secara teori, tampaknya masuk akal bahwa permainan otak akan meningkatkan memori dan penalaran dengan melatih bagian otak yang mengontrol fungsi-fungsi ini. Namun, penelitian telah membuktikan hal ini tidak benar.
BBC mengambil inisiatif untuk melihat ke dalam teori ini. Dalam sebuah penelitian lebih dari 8.600 orang, dengan rentang usia 18-60 tahun, fungsi otak dalam memori dan penalaran tidak membaik setelah mengikuti permainan yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan ini selama tiga kali per minggu, sepuluh menit per hari. Mitos gugur.
Mitos # 9: IQ Anda Tetap Sama Sepanjang Hidup
Apakah anda percaya beberapa orang dilahirkan cerdas dibanding orang lain dan IQ tidak akan berubah? Jika demikian, Anda tidak sendirian. Meskipun benar bahwa tes IQ standar akan menunjukkan sedikit peningkatan kecerdasan selama hidup, namun tidak dipublikasikan bahwa kurva pembelajaran telah dimasukkan ke dalam tes.
Tes ini memperhitungkan nilai hasil belajar yang akan tercapai seiring waktu, kemudian memotongnya, sehingga nilai (score IQ) selalu sama walaupun kita sebetulnya bertambah pandai.
Mitos # 10: Otak Anda Bekerja Lebih Baik Dibawah Tekanan
Teori ini adalah salah satu yang sangat populer, namun pada kenyataannya pikiran anda tidak bekerja lebih baik di bawah tekanan, Anda hanya lebih fokus pada tugas.
Karena dengan adanya fokus membuat orang berpikir bahwa mereka bekerja lebih baik di bawah tekanan, mereka akan menunggu sampai menit terakhir untuk melakukan tugas. Stres yang disebabkan oleh otak yang bekerja di bawah tekanan akan meningkatkan pelepasan kortisol. Terlalu banyak kortisol dapat menghambat kemampuan pembelajaran dan memori sehingga menyebabkan efek merugikan pada jangka panjang.
Sekarang anda telah mengetahui 10 mitos yang paling umum tentang otak manusia adalah tidak benar, sudah waktunya untuk mendidik dunia. Lain kali jika ada seseorang memberitahu anda bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu karena berotak kanan, anda sudah memiliki jawaban yang cerdas mengapa mereka bisa melakukannya.

No comments:

Post a Comment